Aku duduk menghadap pintu kayu berkaca luas itu, menatap satu persatu sosok yang masuk dan keluar ruang fasilitator. Di luar ruang, beberapa muridku bernapas lega. Entah mereka benar-benar lega atau hanya sekedar melepas lelah setelah duduk selama satu setengah jam mengerjakan soal-soal Bahasa Indonesia.
Jeglek...pintu dibuka. Masuklah Mrs Pia, pengajar Biologi, mengenakan masker di hidungnya karena sedang flu. Rupanya Mrs Pia tertular flu dariku. Berjalan cepat, tegap, dengan tubuhnya yang memiliki tinggi proporsional, membuatnya terlihat seperti polisi wanita. Kalau Mrs Pia tidak memakai jilbab, mungkin akan cocok sekali seragam polwan itu di tubuhnya. Baiklah kita lupakan bu Pia dan seragam polwan khayalanku :). Mrs Pia duduk di sebelahku dan kelihatan sibuk sekali, tentu saja karena besok jadwalnya ujian Biologi.
Pandanganku teralih pada perempuan yang duduk di depanku. Miss Mira namanya. Mengajar Social Studies dengan Mr. Gusman. Ingin tau bagaimana sosok Miss Mira? Dia cantik, anggun, dan modis. Gaul pula. Sejak tadi pagi Miss Mira tidak berhenti mengucapkan kata "Aduh.." atau "kok begitu sih, sayang?". Eitsss...jangan mikir yang aneh2 dulu, kita sedang di ruang fasilitator ini!! Miss Mira sedang mengoreksi kertas jawaban ujian murid-murid dan tidak berhenti mengucapkan dua kalimat tersebut jika jawaban anak-anak salah.
Perhatianku beralih ke sebelah kiri Miss Mira, yaitu partner mengajar Miss Mira di Social Studies. Mr. Gusman namanya. Ok, sekarang ia sedang menelepon seseorang. O iya, sebelum menelepon, ia mengeluhkan jerawat yang tumbuh di atas bibirnya. Harap dicatat, sepanjang aku mengenal Mr. Gusman, baru kali ini aku melihatnya berjerawat. Mungkin sedang ada yang dipikirkan olehnya. Selesai menelepon dengan handphonenya, Mr. Gusman pindah menelepon dengan menggunakan telepon sekolah yang letaknya di meja dekat komputer Mr. Staien.
Ah yaa...masih ada fasilitator lain yang belum kuceritakan. Padahal sejak tadi ia duduk tenang, damai, dan anteng di depan komputernya. Entah apa yang sedang ia kerjakan dengan komputernya. Mr. Staien, pengajar Bahasa Indonesia, bertubuh kecil untuk ukuran laki-laki Indonesia, berwajah sedikit galak, suaranya keras, dan jika dia berbicara, maka kau akan tau dia berasal dari mana. Logat Cirebonnya sangat kental dalam setiap pengucapan katanya.
Bergeser ke kiri dari Mr. Staien, ada Mr. Ical sedang berbicara serius dengan Mrs. Rasyid. Mr. Ical adalah kepala sekolah tempatku bekerja. Sosoknya mengingatkanku pada karakter pada serial kartun anak yang pernah ku saksikan ketika kecil, tapi aku lupa namanya. Mr. Ical orang yang sangat bersemangat, humoris, selalu berpikir positif terhadap segala sesuatu. Sedangkan Mrs. Rasyid, oww..aku sangat menghormati beliau. Bijaksana, energik untuk perempuan seusianya, dan selalu haus untuk belajar. Sampai-sampai aku suka malu sendiri jika aku begitu malas belajar.
Di ujung sebelah kiriku ada Miss Ganis, pengajar Kimia. Sejak tadi pagi nervous, senewen, gugup karena hari ini jadwal ujian kimia. Miss Ganis takut sekali anak-anak tidak bisa menjawab soal-soal ujian. Sekarang ujian kimia telah selesai dan Miss Ganis sedang mengoreksi lembar jawaban mereka. Sama dengan Miss Mira, sejak awal mengoreksi Miss Ganis tidak berhenti menggelengkan kepala ketika tahu hasil yang didapat anak-anak. Betapa pekerjaan menjadi seorang guru adalah pekerjaan menguras otak dan tenaga. Murid-murid kami ujian, gurunya ikut stress dan senewen. Takut mereka tidak bisa mengerjakan soal.
Sejak tadi aku hanya mengamati orang-orang yang keluar masuk ruang fasilitator? Tentu saja tidak sekedar mengamati, tapi aku juga terkadang sok tau menebak-nebak apa yang ada dalam pikiran mereka. Aku senang mengamati orang lain, senang melihat ekspresi wajah yang berbeda-beda pada setiap orang. Ekspresi wajah mencerminkan isi hati kan?
Ah...hujan turun sekarang. Dan aku masih terus menatap layar netbook ku sambil mendengarkan alunan denting piano dari Bella's Lullaby.
Ah...hujan turun sekarang. Dan aku masih terus menatap layar netbook ku sambil mendengarkan alunan denting piano dari Bella's Lullaby.








0 comments:
Post a Comment