Benarkah Saya Mengajarkan Mereka Tidak Nasionalis?

Hhhhh... Sudah sebulan ini saya selalu menghela napas seperti ini. Saya sedang (mengambil kata favorit murid-murid saya) galau. Kenapa? Karena saya sedang menghadapi dilema pekerjaan saya (berat nih kayanya :D).

Kira-kira tiga minggu yang lalu, saya dikirimi artikel yang isinya kurang lebih mengatakan bahwa penggunaan bahasa Inggris intensif di sekolah adalah salah satu bentuk penghapusan nasionalisme dan melanggar undang-undang. Tadi pagi saya membaca artikel di kompas.com yang cuplikannya adalah sebagai berikut:

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekolah dan masyarakat saat ini telah menanamkan paradigma yang keliru bagi generasi muda dengan menempatkan hal-hal yang berasal dari luar negeri, khususnya dunia barat, sebagai tanda kemajuan dan internasional. Sementara itu, nilai-nilai ke-Indonesia-an, yang salah satunya bangga berbahasa Indonesia, semakin luntur.

Resah? Ya, pasti. Saya resah dan sedih bukan main membaca dua artikel tersebut. Saya mengajar di sekolah yang mulai menetapkan sistem bilingual. Di sekolah tempat saya mengajar, saya selalu menekankan murid-murid saya selalu berbahasa Inggris di sekolah. Jarang sekali saya berbahasa Indonesia di sekolah, walaupun bukan di dalam kelas. Di kantin saya menyapa dengan bahasa Inggris, di ruang guru yang memang adalah "English speaking area" saya selalu menegur murid-murid saya yang tidak berbahasa Inggris. Saya selalu "memaksa" murid-murid saya untuk berani mencoba berbicara bahasa Inggris walaupun grammar mereka amburadul. Saya senang sekali jika murid-murid saya mau berbicara bahasa Inggris di sekolah. Benarkah yang saya lakukan melanggar undang-undang? Benarkah saya mencoba menghapus kebanggaan murid-murid saya dalam berbahasa Indonesia? Benarkah saya membuat mereka merasa lebih keren jika berbahasa Inggris?

Baik, izinkan saya menyampaikan pembelaan saya ya. Saya adalah orang yang tergila-gila dengan bahasa, jujur saja. Saya sangat suka mempelajari bahasa asing, mengutak-atik struktur kata dan kalimat, menghafal kosakata baru dalam bahasa asing, hingga mempraktekan bahasa asing tersebut. Bahkan mimpi saya adalah menjadi ahli linguistik dan bisa menguasai 7 bahasa asing. Berlebihan? Saya rasa tidak. Ini kan mimpi saya. Untuk apa saya sedemikian kuat ingin mempelajari dan menguasai bahasa asing? Karena saya bangga jadi orang Indonesia.

Apa hubungannya? Begini: Ketika saya ingin berbicara kepada warga dunia untuk menunjukkan saya orang Indonesia yang tidak bodoh, dengan apa saya berbicara? Dengan bahasa toh. Apakah saya berbicara kepada warga dunia dengan berbahasa Indonesia? Tentu saja tidak. Saya berbicara dengan bahasa mereka, bahasa yang dimengerti mereka. Saya tidak mengharapkan mereka mengerti bahasa Indonesia. Dengan belajar bahasa mereka, saya berniat "mencuri" ilmu dari negara lain, dan jika sudah dapat ilmunya saya akan terapkan untuk membangun negara saya, Indonesia.

Ok.. OK.. jika mimpi saya yang ini terlalu muluk dan saya tidak punya kesempatan "mencuri" ilmu di negara lain, saya punya rencana lain. Jika saya tidak bisa, maka saya ingin murid-murid saya yang bisa mencuri ilmu pengetahuan tersebut. Biarlah saya mengajarkan ilmu berbahasa kepada murid-murid saya. Biar murid-murid saya saja yang mengambil kesempatan mencuri ilmu dan membangun negri ini. Saya selalu mengatakan pada murid-murid saya, jika ingin menguasai dunia, kuasai bahasanya, ambil ilmunya, bangun Indonesia. Realistis lah.. Indonesia belum semaju negara-negara lain. Jangan malu "mencuri" ilmu dari negara lain dan bawa ilmunya ke sini untuk membangun Indonesia.

Yang ingin saya sampaikan juga di sini adalah, berbahasa lah pada tempatnya. Tidak mungkin kan kalian ke pasar dan pakai bahasa Inggris? Bingung nanti pedagang di pasar :D (Ok, ini ngga nyambung, cuma selingan hehe)

Saya sama sekali tidak berpikir untuk gaya-gayaan atau menghapuskan rasa nasionalisme dari benak murid-murid saya. Justru saya ingin membuat murid-murid saya bisa menjadi orang Indonesia yang berpikiran maju dan membangun negaranya.

Well, ini cuma curhatan saya. Kan saya tadi bilang, saya lagi galau. Terima kasih sudah menyimak curhatan saya.

Cheers :)